Penyakit Tuberkulosis(TB) Masih Mengintai Masyarakat Bulungan

0
192

Kaltaraterkini.co.id, Kalimantan Utara – Beberapa bulan lalu, seorang pemuda 27 tahun datang ke layanan kesehatan di Tanjung Selor dengan keluhan batuk tak kunjung reda. Ia mengira hanya “batuk biasa”.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Tuberkulosis(TB) paru. Kisah ini mengingatkan kita: di Bulungan, TB belum pergi dan bisa menularkan siapa saja. Data kesehatan menunjukkan, pada 2024 Provinsi Kalimantan Utara(Kaltara) mencatat sekitar 1.400 kasus TB, dari lima kabupaten/kota, Nunukan, Tana Tidung, dan Tarakan telah mencapai status eliminasi, namun Bulungan dan Malinau masih berjuang.

Lebih memprihatinkan, hingga Agustus 2025, capaian penemuan kasus baru TB di Kaltara baru sekitar 39,5% dari target tahunan. Artinya, masih banyak penderita yang belum terdeteksi, tidak berobat, dan berisiko menularkan ke keluarga serta lingkungan.

Mengapa TB masih sulit ditangani?

Pertama, diagnosis kerap terlambat karena akses pemeriksaan di wilayah pedalaman dan perbatasan belum merata.

Kedua, keterbatasan tenaga Kesehatan, membuat penanganan optimal tidak selalu mudah.

Ketiga, hambatan transportasi membuat rujukan dari desa terpencil ke fasilitas yang lebih lengkap bisa memakan waktu lama.

Keempat, stigma: sebagian warga enggan memeriksakan diri karena takut dicap, padahal TB dapat disembuhkan bila ditangani benar.Masalah paru lain juga memperberat situasi.

Prevalensi perokok aktif di Kalimantan Utara tercatat 26,8% dengan konsumsi rata-rata 12,8 batang per hari. Faktor yang berkaitan dengan PPOK dan kerentanan infeksi. Ditambah lagi, lebih dari 24.000 peserta JKN di Bulungan dilaporkan tidak aktif per Juni 2025, sehingga sebagian masyarakat cenderung menunda berobat.

Apa yang bisa kita lakukan?

Jangan abaikan batuk lebih dari tiga minggu. Periksa ke puskesmas atau RSUD. Bagi perokok, berhenti sekarang adalah langkah paling penting. Jika didiagnosis TB, jalani pengobatan sampai tuntas (minimal enam bulan) agar tidak kambuh dan tidak menular.

Bulungan mampu mengejar target Indonesia bebas TB 2030. Kuncinya: deteksi dini, pengobatan tuntas, dukungan keluarga, dan layanan kesehatan yang mudah diakses.

Artikel : dr. Dewi Kusumastuti, MARS.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!